Aku ingin berbagi untuk sesamaku, aku tahu pasti orang –orang bosan dengan apa yang selalu aku ungkapkan. Lagi-lagi tentang cinta. Tapi ijinkan aku sekali lagi membahasnya, setelah ini Insyaallah aku ga bahas yang seperti ini lagi. Aku ingin berbagi siapa tahu aku punya teman yang sama masalahnya denganku.
Ok, aku akan mulai dari pertanyaan, apakah cinta itu halal atau haram? Kalau haram dan terlarang kenapa ada pujangga, yang kalimatnya mampu membius pembacanya serasa bagai di surga?
Ketika kita mengartikan cinta adalah perasaan yang terjalin antara dua remaja yang diwujudkan dengan mengumbar kata-kata cinta dan mempraktekannya dengan perbuatan-perbuatan yang tak pantas, inilah cinta yang haram. Dan cinta seperti ini bukan cinta yang diungkapkan oleh para pujangga. Cinta yang seperti ini yang terlarang. Karena sesungguhnya cinta sejati hanya pada-Nya. Kalupun ada cinta sesama manusia bukan cinta seperti itu yang sebenarnya cinta. Cinta adalah perasaan yang lahir dari perasaan saling menghormati, saling menghargai, saling mengerti, saling menrima kekurangan yang dimiliki pasangannya dan menerima kekurangan itu sebagai suatu keyakinan bahwa memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Agama juga tidak mengharamkan cinta yang tumbuh antara remaja selama mereka mampu menjaganya gar tidak melanggar dar aturan-aturan agama, dan tujuan utamanya adalah menikah bukan sekedar mencari kesenangan sesaat dengan yang namanya pacaran. Pacaran hanyalah menambah masalah dalam kehidupan ini, hanya menghancurkan hati, bahkan bisa menodai harga diri seorang gadis. Aku mengatakan ini bukan karena aku yang selalu gagal mencinta dan dicinta, tapi karena aku telah menyadari yang ada dalam cinta smu dan nafsu hanyalah kehancuran, duka an air mata penyesalan. Bukan menyesal karena gagalnya cinta, tapi penyesalan karena tak mampu menanggung tanggung jawab atas dosa-dosa. Aku berkata karena aku mengalami. Bukannya aku tak berhati, atau tak pernah mencinta. Aku punya cinta bahkan sekarang aku juga mencinta. Tapi aku tak mau salah lagi. Tapi aku tak mau semakin tenggelam dalam lumpur dosa.
Gadis yang cerdas adalah gadis yang mampu menempatkan nyanyian dan puisi cinta secara proporsional, bukan sebagai pedoman hidup seperti yang selam ini aku lakukan tanpa kusadari. Aku ingin menjadi gadis yang cerdas sekarang. Cinta memang bagian penting dalam hidup manusia. Tapi kehidupan bukan hanya sekedar untuk memikirkan cinta. Kita dilahirkan dengan tugas-tugas kemanusiaan dan juga dengan kewajiban sebagai makhluk Allah SWT, kewajiban beribadah dan berjuang dijalan-Nya jauh lebih penting. Tanpa perlu dikejar cinta kan datang dan yakin hanya melalui tangan Tuhanlah kebahagiaan yang abadi kan terwujud. Dan aku sangat yakin Allah mendengar setiap doa umat-Nya. Aku sedang berusaha, dan aku tak mau gagal.
Archive for May, 2008
cinta
curhat
“Bahasa orang lemah”, aku baca tulisan ini dalam sebuah buku. Entah kenapa aku suka sekali dengan ungkapan ini. Padahal aku sendiri kurang setuju dengan maknanya. Bukan membela diri, tapi bagiku tangisan bukan bahasa orang lemah. Justu tangisan adalah upaya untuk menenteramkan hati. Segala emosi telah tercurah. Saat menangis bagiku adalah saat merenung. Aku ga setuju dengan pendapat bahwa air mata adalah tanda kelemahan seseorang. Justru setelh air mata puas membanjiri bantal, pikiran akan jadi lebih jernih, tenang, emosi pun bisa dikontrol. Hanya orang –orang yang hatinya bekulah yang tak mampu meneteskan air mata. He he he,
Jadi menurutku syah-syah saja orang menangis, selama tangisan itu tidak ditujukan untuk menarik perhatian dan meraih keuntungan belaka. Sebenarnya ada seorang teman yang mengatakan “….. knapa ada acara nangis2 lagi?….”, kalimat ini seolah menyalahkan kalau ada yang menangis. Ya,,, mungkin saja temanku itu berniat hanya untuk menenangkan dan menguatkan. Tapi seperti yang telah aku katakan di awal, air mata bukan bahasa orang lemah.
Perkenalan
Akhirnya, bergabung juga aku di sini. Bukan karena saranmu, tapi memang karena inginku. Bukan karena tantangannya, tapi memang karena kemauanku sendiri. Tapi kalau aku tak mengenalmu, mungkin memang aku tak akan lakukan ini. Terima kasih. Aku memang tak pandai menulis, jadi harap maklum kalau tulisanku memang tidak bermutu. Memang tak pandai aku. Aku harus belajar itu yang aku tahu. Dan memang ada yang harus aku katakan. Janji sudah terucap, tapi urusanku belum selesai.